SELAMAT BERKUNJUNG DI BLOG SAYA

Kamis, 24 Mei 2012

FRASA EKSOSENTRIS BAHASA MUNA


OLEH: IKRAWATI

FRASA EKSOSENTRIS BAHASA MUNA


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang dan Masalah
1.1.1 Latar Belakang

     Sebagian besar anak Indonesia lahir dan memulai kehidupannya sebagai anak daerah. Mereka berkembang dan belajar mengenali sekitarnya melalui bahasa daerahnya. Hal itu dapat dipahami sebagai suatu kenyataan bahwa di Indonesia terdapat berbagai suku bangsa dengan bahasa masing-masing. Bahasa-bahasa yang digunakan oleh masing-masing suku bangsa yang menempati wilayah republik Indonesia umumnya dikenal dengan nama bahasa daerah. Sehubungan dengan hal tersebut, bahasa daerah berfungsi sebagai: 1) lambang kebanggaan daerah,  2) lambang identitas daerah, serta 3) alat penghubung dalam keluarga dan masyarakat daerah. Dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai 1) pendukung bahasa nasional, 2) sumber kebahasaan untuk memperkaya kosa kata bahasa Indonesia, serta 3) pendukung kebudayaan daerah.
Hidup dan berkembangnya suatu bahasa daerah tergantung pada masyarakat pemakainya (Hasan, 1992 : 43).
       Bahasa daerah bisa hidup dan berkembang, bahasa daerah juga bisa mati dan sirna apabila masyarakat pemakainya tidak berupaya membina dan mangambangkannya. Dijelaskan pula oleh Hasan bahwa bahasa daerah yang mati mungkin diminati sebagai kuriositas, sedangkan bahasa daerah yang hidup dan berkembang memiliki fungsi serbaguna sebagai medium pengungkapan pikiran dan penghayatan manusiawi.
     Sehubungan dengan pendapat Hasan, dalam kaitannya dengan pertumbuhan, pengembangan bahasa nasional serta kepentingan pembinaan dan pengembangan bahasa daerah itu sendiri sebagai salah satu unsur kebudayaan, bahasa daerah perlu diselamatkan, dipelihara, dibina dan dikembangkan. Oleh sebab itu penggalian, pencatatan dan penelitian yang efektif terhadap bahasa daerah perlu dilaksanakan dan ditingkatkan. Melalui penelitian yang akan dilaksanakan perlu dikumpulkan data dan informasi tentang bahasa daerah, yang dapat digunakan untuk pengembangan bahasa dan pengembangan sosial budaya pada umumnya yang sekaligus menunjang pembangunan nasional.
         Bahasa daerah Muna merupakan salah satu bahasa daerah yang terdapat di Kabupaten Muna, Kota Raha, Provinsi Sulawesi Tenggara. Penutur bahasa Muna tersebar di beberapa daerah, yang terdiri atas tiga dialek yaitu dialek standar dituturkan oleh masyarakat Tongkuno dan sekitarnya, dialek Gulamas dituturkan oleh masyarakat Muna Selatan dan dialek Tikep dituturkan oleh masyarakat Tiworo Kepulauan. Penelitian ini berlokasi di Desa Wambona Kecamatan Wakorumba Selatan yang merupakan penyebaran dari dialek standar.
        Berbagai upaya pembinaan dan pengembangan bahasa daerah Muna guna pelestarian budaya dan keutuhannya, penelitian terhadap bahasa Muna telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya, antara lain: (1) La Ino (1998) telah melakukan penelitian tentang Bentuk-Bentuk Proklitik Bahasa Muna yang Melekat pada Verba, (2) Laode Muh. Alifin (2001) telah meneliti tentang Afiks Pronomina Persona Ketiga Bahasa Muna, (3) La Unsa (2001) telah meneliti tentang Analisis Kategori Adverbia Bahasa Muna, (4) Nursina (2003) meneliti tentang Frasa Endosentris Bahasa Muna Dialek Gu- Mawasngka, (5) Muliana Samia (2002) meneliti tentang Perilaku Sintaksis Verba Bahasa Muna, (6) Zainuddin Sangka (2002) meneliti tentang Verba Turunan Bahasa Muna  (7) Hadirman (2006) meneliti tentang Pronomina Penunjuk Lokatif dalam Bahasa Muna, (8) Laode Sadia (2000) meneliti tentang Fungsi, Peran dan Kategori Kalimat Tunggal Bahasa Muna, (9) Musfirah (2005) meneliti tentang Analisis Fungsi-Fungsi Sintaksis Bahasa Muna Dialek Gu- Mawasangka, (10) Hasnah (2002) meneliti tentang Bentuk-Bentuk Pemarkah Ketunggalan Bahasa Muna Dialek Gu- Mawasangka. Dari sepuluh peneliti bahasa daerah Muna tersebut, masih banyak peneliti sebelumnya yang belum dicantumkan. Namun dari hasil observasi tentang penelitian bahasa daerah Muna, belum ada yang meneliti tentang “Frasa Eksosentris Bahasa Muna”. Oleh sebab itu, penelitian tentang  Frasa Eksosentris Bahasa Muna perlu dilakukan sebagai pelengkap penelitian sintaksis dalam bahasa Muna. Penelitian tentang Frasa Eksosentris Bahasa Muna ini relevan dengan penelitian  yang dilakukan sebelumnya yaitu ‘Frasa Eksosentris Bahasa Ciacia” yang diteliti oleh Rahman (2009) yang menjadi acuan dalam penelitian ini.
        Penelitian bahasa daerah dalam hal ini ”Frasa Eksosentris Bahasa Muna” sangat penting karena peran dan kehadirannya dalam percakapan sehari-hari sangat diperlukan yaitu dapat dijadikan sebagai bahan informasi bagi masyarakat khususnya penutur bahasa daerah Muna dan masyarakat di luar penutur bahasa daerah Muna pada umumnya agar bahasa daerah Muna lebih diketahui dan lebih dikenal. Hal ini juga merupakan salah satu upaya pelestarian budaya daerah. Kekhasan yang lain, yaitu berdasarkan kategori/kelas kata yang mengisi frasa eksosentris bahasa Muna dibentuk oleh preposisi nomina dan konjungsi pronomina verba sehingga perlu untuk dikaji. Sebagai contoh, La Ali negholi kenta so datumunu (Ali membeli ikan untuk dibakar). Konstituen yang menjadi penanda frasa eksosentris adalah konstituen so datumunu. Konstituen so datumunu, baik konstituen so maupun konstituen datumunu tidak bisa menduduki fungsi keterangan  sebab kedua konstituen tersebut tidak berterima.
      Penelitian terhadap frasa eksosentris bahasa Muna juga dapat dijadikan sebagai bahan pembanding dengan frasa eksosentris bahasa Indonesia. Di sisi lain, penelitian bahasa Muna juga dapat memberikan kontribusi dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Muna yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia.

1.1.2 Masalah
       Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimanakah struktur  kategori/kelas kata yang mengisi frasa eksosentris bahasa Muna?

1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.2.1 Tujuan Penelitian
      Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan struktur kategori/kelas kata yang mengisi frasa eksosentris bahasa Muna.

1.2.2 Manfaat Penelitian
        Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah
1. Membawa usaha penyelamatan, pembinaan dan pengembangan bahasa daerah.
2. Membawa usaha pelestarian budaya daerah.
3. Dapat dijadikan sebagai acuan untuk peneliti selanjutnya.

1.3 Batasan Operasional
Dalam suatu penelitian, pemahaman dipandang sebagai suatu keharusan. Hal tersebut dimaksudkan  untuk mencegah penafsiran ganda yang terdapat dalam pembahasan penelitian. Adapun istilah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang tidak melampuhi batas fungsi.
2. Struktur frasa adalah susunan frasa atau pola-pola frasa.
3. Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak berhulu atau tidak berpusat.


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sintaksis
    Banyak ahli yang telah mengemukakan penjelasan atau batasan sintaksis. Ada yang mengemukakan bahwa sintaksis adalah telaah mengenai pola-pola yang dipergunakan sebagai sarana untuk menggabungkan kata menjadi kalimat (Striger dalam Tarigan, 1986 : 5). Sintaksis juga merupakan analisis mengenai konstruksi-konstruksi yang hanya mengikut sertakan bentuk-bentuk bebas. (Block and Trager dalam Tarigan, 1986 : 5). Menurut Ramlan dalam Tarigan (1986 : 5) sintaksis adalah bagian dari tata bahasa yang membicarakan struktur frasa dan kalimat.  Dari keterangan dan batasan-batasan tersebut, Tarigan membuat batasan sebagai berikut. Sintaksis adalah salah satu cabang tatabahasa yang membicarakan struktur-struktur frasa, klausa, dan kalimat (Tarigan, 1986 : 6).
      Menurut Chaer (1994 : 206) sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain atau unsur-unsur lain sebagai satu kesatuan ujaran.   Verhaar (2006 : 11) memberikan definisi sintaksis sebagai cabang linguistik yang menyangkut susunan kata-kata dalam kalimat.
Ramlan dalam Konisi (2010 : 2) sintaksis adalah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Dari berbagai definisi sintaksis tersebut, dapat disimpulkan bahwa sintaksis mengkaji tentang frasa, klausa dan kalimat.

2.2 Pengertian Frasa
       Frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih, yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa atau nonpredikatif (Cook dalam Tarigan 1986 : 93).
Pendapat lain dikemukakan oleh Widjojosoedarmo (1987 : 331) frasa adalah satuan linguistik yang terdiri atas dua kata atau lebih dan yang selalu menjalankan satu fungsi dalam sebuah kalimat. Sebagai contoh, orang itu akan membeli tiga ekor ayam di Pasar. Dalam kalimat tersebut terdapat empat macam frasa, yakni 1) konstituen orang itu terdiri atas dua kata dalam kalimat tersebut yang hanya menduduki satu fungsi yaitu subyek yang merupakan frasa nomina, 2) konstituen akan membeli terdiri atas dua kata dalam kalimat tersebut yang hanya menduduki satu fungsi yaitu predikat yang merupakan frasa verba, 3) konstituen tiga ekor ayam terdiri atas tiga kata dalam kalimat tersebut yang hanya menduduki satu fungsi yaitu fungsi obyek yang merupakan frasa numeral, 4) konstituen di pasar terdiri atas dua kata dalam kalimat tersebut yang hanya menduduki satu fungsi yaitu fungsi keterangan yang merupakan frasa preposisi.
       Chaer (1994 : 222) menguraikan frasa sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa frasa itu lebih dari sebuah kata. Kata yang dimaksudkan adalah satuan gramatikal bebas terkecil, maka pembentuk frasa itu harus berupa morfem bebas, bukan berupa morfem terikat. Jadi, konstruksi belum makan dan tanah tinggi adalah frasa, sedangkan konstruksi tata boga dan interlokal bukn frasa karena boga dan inter merupakan morfem terikat. Dari definisi itu juga terlihat bahwa frasa adalah konstruksi nonpredikatif. Ini berarti, hubungan kedua unsur yang membentuk frasa itu tidak berstruktur subjek-predikat atau berstruktur predikat-objek. Oleh karena itu, konstruksi adik mandi dan menjual sepeda bukan frasa; tetapi konstruksi kamar mandi dan bukan sepeda adalah frasa. Chaer (1998 : 301) menambahkan bahwa frasa adalah gabungan dua buah kata atau lebih yang merupakan satu kesatuan dan menjadi salah satu unsur atau fungsi kalimat.
       Frasa adalah suatu konstruksi yang dapat dibentuk oleh dua kata atau lebih, baik dalam bentuk sebuah pola dasar kalimat maupun tidak (Parera, 2009:55). Sebuah frasa sekurang-kurangnya mempunyai dua anggota pembentuk. Anggota pembentuk ialah bagian sebuah frasa yang terdekat atau langsung membentuk frasa itu. Sebagi contoh, Dokter tua bangka itu membaca buku cerita komik. Dalam kalimat tersebut, kata tua bngka merupakan perluasan dari unsur dokter, kata cerita komik merupakan perluasan terhadap unsur buku. Perluasan itu tidak terbentuk satu pola klausa. Jadi, dokter tua bangka adalah sebuah frasa, buku cerita komik adalah sebuah frasa pula. Jika perluasan kata tersebut dihilangkn, maka konstruksi kalimat tersebut menjadi dokter membaca buku.
Lain halnya dengan (Badudu dan Ramlan dalam Konisi, 2011 : 12) mengemukakan bahwa frasa merupakan  satuan bahasa yang terdiri atas dua konstituen atau lebih yang tidak melampauhi batas fungsi. Dari berbagai pendapat para ahli mengenanai frasa, dapat disimpulkan bahwa frasa merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak melampauhi batas fungsi dalan sebuah kalimat.

2.3 Jenis-Jenis Frasa
      Dalam berbagai pendekatan, frasa dapat dikelompokan ke dalam beberapa jenis. Frasa dapat ditentukan jenisnya berdasarkan konstituen pembentuknya, pola urutannya, distribusinya, dan dapat pula ditentukan jenisnya berdasarkan kategori/kelas kata pembentuknya (Badudu dkk. dalam konisi, 2010 : 13). Hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

2.3.1 Penjenisan Frasa Berdasarkan Jumlah Konstituen Pembentuknya
       Berdasarkan jumlah konstituen pembentuknya, frasa dapat dibedakan atas frasa yang terdiri atas satu konstituen pembentuk, dua konstituen pembentuk, dan dapat pula terdiri atas lebih dari dua konstituen pembentuk. Konstituen pembentuknya dapat berupa kata dan dapat pula berupa frasa (konisi, 2010 : 13).

2.3.2  Penjenisan Frasa Berdasarkan Pola Urutannya
Berdasarkan pola urutan, frasa dapat dibedakan atas frasa yang berpola urutan konstituen diterangkan (D) mendahului konstituen menerangkan (M) atau sebaliknya konstituen menerangkan (M) mendahului konstituen (D) (Alisjahbana dalam Konisi, 2010 : 14).
Konstituen diterangkan menjadi inti sebuah frasa sedangkan konstituen menerangkan menjadi atribut atau penjelas sebuah frasa. Karena itu, pola DM adalah sebuah pola urutan dalam sebuah frasa yang menempatkan konstituen diterangkan (D) mendahului konstituen menerangkan (M). Sebagai contoh frasa gemuk sekali. Konstituen gemuk sekali memiliki inti atau unsur pusat gemuk, sedangkan konstituen sekali merupakan konstituen atribut atau penjelas. Sebaliknya, pola MD adalah sebuah pola dalam frasa yang menempatkan konstituen menerangkan (M) mendahului konstituen (D). Sebagai contoh frasa sedang berolahraga. Konstituen sedang merupakan atributif atau penjelas, sedangkan konstituen berolahraga merupakan inti dari frasa tersebut.

2.3.3 Penjenisan Frasa Berdasarkan Kategori/Kelas Kata
      Berdasarkan kategori atau kelas kata pembentuknya, frasa dapat dibedakan atas konstituen yang diisi atau dibentuk. Kata yang berkategori atau berkelas kata utama meliputi: verba, nomina, adjektiva, dan numeralia.
Sedangkan kelas kata yang berkategori kelas kata perangkai meliputi preposisi dan konjungsi. Frasa yang diisi oleh kata yang berkategori kelas kata utama menjadi inti frasa dan frasa yang diisi oleh kata yang berkategori kata perangkai menjadi perangkai frasa (Konisi, 2010 : 14). Berdasarkan konstituen inti, kategori frasa terbagi atas:

1) Frasa Nomina
Frasa nomina adalah frasa yang memiliki unsur pusat berupa kata benda (Konisi, 2010:14). Sebagai contoh frasa sepatu baru dan gadis cantik. Frasa sepatu baru yang menjadi konstituen inti adalah konstituen sepatu, sedangkan yang menjadi konstituen atribut atau penjelas adalah konstituen baru dan frasa gadis cantik yang menjadi konstituen inti adalah konstituen gadis sedangkan yang menjadi konstituen atribut adalah konstituen cantik.

2) Frasa Adjektiva
Frasa adjektiva adalah frasa yang memiliki unsur pusat berupa kata sifat ( Konisi, 2010 : 15). Sebagai contoh frasa baik sekali dan sangat indah. Frasa baik sekali, konstituen yang menjadi unsur pusat adalah konstituen baik, sedangkan konstituen sekali menjadi konstituen atribut. Frasa sangat indah yang menjadi konstituen inti adalah konstituen indah, sedangkan yang menjadi konstituen atribut adalah konstituen sangat.

3) Frasa Verba
Frasa verba adalah frasa yang memiliki unsur pusat berupa kata kerja (Konisi, 2010 : 15). Sebagai contoh frasa berlari cepat dan sedang membaca. Frasa berlari cepat yang menjadi konstituen inti adalah konstituen berlari, sedangkan yang menjadi konstituen atribut adalah konstituen cepat. Frasa sedang membaca yang menjadi konstituen inti adalah konstituen membaca, sedangkan yang menjadi konstituen atribut adalah konstituen sedang.
4) Frasa Numeral
Frasa numeral adalah frasa yang unsur pusatnya atau yang menjadi intinya berupa kata bilangan (Konisi, 2010 : 15). Sebagai contoh frasa dua ekor dan empat biji. Frasa dua ekor yang menjadi konstituen inti adalah konstituen dua, sedangkan yang menjadi konstituen atribut adalah konstituen ekor. Frasa empat biji yang menjadi konstituen inti adalah konstituen empat, sedangkan yang menjadi konstituen atribut adalah konstituen biji.
Berdasarkan konstituen perangkai (relator), frasa dibedakan atas :

1) Frasa Preposisi
Frasa preposisional adalah frasa yang perangkainya menduduki posisi di depan sumbuhnya. Frasa ini diawali oleh preposisi sebagai perangkainya, diikuti oleh nomina atau frasa nomina (Konisi, 2010 : 15). Sebagai contoh frasa di kebun dan dari rumah Konstituen di pada frasa di Kebun merupakan preposisi, sedangkan konstituen kebun berupa kata benda. Frasa dari rumah yang menjadi unsur preposisi adalah konstituen dari, sedangkan konstituen yang menjadi kata benda adalah konstituen rumah.

2) Frasa Konjungsi
Frasa konjungsional adalah frasa yang ditandai adanya konjungsi atau kata penghubung sebagai penanda diikuti klausa sebagai petanda. Karena penanda klausa adalah predikat, maka petanda dalam frasa konjungsi selalu mempunyai predikat (Colin Widi Widawati 2010, 24 Juni 2012).
Sebagai contoh frasa sampai bertemu dan untuk Anda. Frasa sampai bertemu yang menjadi unsur konjungsi adalah konstituen sampai, sedangkan konstituen bertemu berupa kata kerja. Frasa untuk Anda yang menjadi unsur konjungsi adalah konstituen untuk, sedangkan konstituen Anda berupa pronomina.

2.3.4 Penjenisan Frasa Berdasarkan Distribusi Konstituen
Berdasarkan distribusi konstituen dalam kalimat, frasa dapat dibedakan atas dua jenis yaitu frasa endosentris dan frasa eksosentris. Penjelasan kedua frasa tersebut adalah sebagai berikut.

2.3.4.1  Frasa Endosentris
Frasa endosentris adalah frasa yang konstituen intinya berkategori sama dengan kategori seluruh frasa. Frasa endosentris dibedakan atas tiga kategori, yaitu (1) frasa endosentris koodinatif, (2) frasa endosentris atributif, dan (3) frasa endosentris apositif (Konisi, 2010 : 18). Penjelasan ketiga kategori tersebut adalah sebagai berikut.

1) Frasa Endosenris Koordinatif
         Frasa endosentris koodinatif adalah frasa yang konstituen-konstituennya memiliki kedudukan setara. Frase endosentris koordinatif dapat diisi oleh kategori nomina, verba, dan  adjektiva seprti contoh berikut.
(1) Sampaikan hormat saya kepada ibu bapak
Konstituen frasa yang dicetak miring pada konstruksi (1) merupakan inti sehingga dapat berdistribusi sama dengan distribusi seluruh frasa. Dengan demikian frasa pada kontruksi (1) dapat diuraikan sebagai berikut.
(1a) Sampaikan hormat saya kepada ibu atau sampaikan hormat saya kepada bapak.

2) Frasa Endosentris Atributif
           Frasa endosentris yang atributif memiliki anggota yang kedudukanmya tidak sama. Ada anggota frasa yang menduduki konstituen inti dan ada anggota frasa yang berposisi sebagai atribut (bukan inti). Sebagai contoh.
(1) Tukang itu membuat kursi kayu
Konstituen inti dari frasa tersebut adalah kata kursi, sedangkan kata kayu merupakan atribut. Selengkapnya, dapat dilihat berikut ini.
(1a) Tukang itu membuat kursi
           *Tukang itu membuat kayu

3) Frasa Endosentris Apositif
              Frasa endosentris apositif mirip dengan frasa endosentris atributif. Konstituen penjelas adalah frasa yang apositif. Konstituen apositif meurpakan konstituen yang berkedudukan sebagai penjelas tambahan. Dalam pengucapan, konstituen yang bertindak sebagai tambahan itu ditandai oleh jeda sebagai pembatas inti dan tambahan. Dalam bahasa tulis, pembatas itu ditandai oleh tanda koma.
 Contoh :
(1) Muhammad, nabi yang terakhir itu, wafat di Madinah.
(2) Kendari, ibukota propinsi sulawesi tenggara memiliki wilayah yang luas.
Konstituen yang dicetak miring tergolong frasa endosentris aposotif sehingga dapat saling mengganti.
(1a) Muhammad wafat di Madinah
(1b) Nabi yang terakhir itu wafat di Madinah
(2a) Kendari memiliki wilayah yang luas
(2b) Ibu kota Provinsi Sultra memiliki wilayah yang luas

2.3.4.2 Frasa Eksosentris
Frasa eksosentris adalah frasa yang tidak berhulu atau berpusat (Cook dalam Tarigan, 1986: 94). Menurut (Konisi, 2010 : 16) Frasa eksosentris adalah frasa yang konstituen pusatnya tidak dapat berdistribusi sama dengan frasa yang dibentuknya. Frasa eksosentris dapat juga disebut frasa yang tidak memilki hulu/induk/inti/pusat. Kategori/kelas kata yang mengisi frasa eksosentris biasanya berupa preposisi dan konjungsi.
Frasa preposisi merupakan frasa yang terdiri atas preposisi dan konstituen lain berupa nomina. Seperti contoh berikut.
(1)  Perkara itu telah dibawa ke meja hijau
Dari contoh tersebut dapat diketahiu bahwa baik komponen ke maupun komponen meja hijau tidak dapat mengisi fungsi keterangan sebab konstruksi tersebut tidak berterima.
(1a)  * Perkara itu telah dibawa ke
(1b)  * Perkara itu telah dibawa meja hijau
Sedangkan frasa konjungsi merupakan frasa yang terdiri atas konjungsi dan konstituen lain berupa nomina/pronomina. Seperti contoh berikut.
(1)  Kain ini saya beli untuk ibu saya
Dari contoh di atas dapat diketahui bahwa baik komponen untuk maupun komponen ibu saya tidak dapat mengisi fungsi objek, sebab konstruksi tersebut tidak berterima.
(1a)  *  kain ini saya beli untuk
(1b)  * kain ini saya beli ibu saya
Lain halnya dengan Usup, dkk. (1981 : 127) membagi frasa eksosentris atas tiga jenis yaitu frasa eksosentris direktif, frasa eksosentris non direktif, dan frasa eksosentris konektif.

1) Frasa Eksosentris Direktif
Frasa eksosentris direktif adalah frasa yang komponen pertamanya adalah berupa preposisi, seperti di, ke, dari, dan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata yang biasanya berkategori nomina. Sebagai contoh frasa di gunung dan frasa dari besi, komponen pertamanya adalah preposisi sedangkan komponen keduannya berupa nomina.

2) Frasa Eksosentris Nondirektif
Frasa eksosentris nondirektif adalah frasa yang komponen pertamanya berupa partikel, seperti si dan sang atau kata lain seperti yang, para, dan kaum; sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata berkategori nomina, adjektiva dan verba. Sebagai contoh frasa si miskin dan frasa sang mertua, komponen pertamanya berupa partikel, sedangkan komponen keduanya berupa adjektifa dan nomina.

3) Frasa Eksosentris Konektif
Frasa eksosentris konektif adalah frasa yang salah satu unsurnya sebagai konektor atau penghubung unsur lain. Sebagai contoh frasa segera mandi. Komponen pertamanya berupa penghubung, sedangkan komponen keduannya berupa verba.

2.4 Struktur Frasa
Struktur frasa adalah susunan frasa atau pola-pola frasa. Setiap jenis frasa memiliki struktur yang berbeda-beda (Konisi, 2010 : 19). Struktur tersebut dapat dikemukakan sebagai berikkut.

2.4.1  Struktur Frasa Nominal
       Struktur frasa nominal merupakan frasa yang konstituen pusatnya atau konstituen intinya berupa nomina atau frasa nominal. Frasa ini bersifat koordinatif, atributi dan apositif.
Frasa nomina koordinatif beranggotakan dua konstituen pusat atau lebih yang semuanya merupakan nomina atau frasa nomina. Frasa nomina atributif memiliki inti berupa nomina atau frasa nominal. Atributifnya berada disebelah kiri atau disebelah kanan inti tersebut.
Dalam frasa nominal, atributifnya dapat berupa :
1) Adjektiva, misalnya sepatu hitam, kacang merah
2) Partikel, misalnya si pengecut, sang raja
3) Nomina, misalnya meja kayu, halaman rumah saya
4) Verba, misalnya orang berjalan, padi menguning
5) Numeralia, misalnya lima saudara, lima anak
6) Preposisi, misalnya orang di jalan, padi di ladang
7) Konjungsi misalnya sampai sore hari, uang untuk kontrak rumah (Konisi, 2010 : 19).

2.4.2  Struktur Frasa Verbal
       Frasa verbal memiliki konstituen inti verba atau frasa verba. Frasa verba itu dapat bersifat koordinatif dapat pula bersifat atributuf. Frasa verbal koordinatif terdiri atas dua konstituen inti atau lebih yang semuanya berkategori verba atau frasa verba.
Frasa verba atributif dapat berupa:
1) Verba, misalnya pulang memasak, belajar menari
2) Adjektiva, misalnya berlari cepat, berjalan lambat
3) Preposisi, misalnya memasak di dapur, pulang dari sekolah
4) Konjungsi, misalnya berlari dengan cepat, menyelam sambil menangkap ikan
5) Adverbia, misalnya akan pulang, ingin bersantai ria (Konisi, 2010 : 20).

2.4.3  Struktur Frasa Adjektival
Struktur frasa adjektival dapat bersifat koordinatif dan ada pula yang atributif. Frasa adjektival koordinatif semua konstituen pusatnya berupa adjektiva yang ditandai oleh relator.. Sebagai contoh tinggi besar, besar kecil, dan tua muda (Konisi, 2010 : 21).

2.4.4 Struktur Frasa Numeral
      Frasa ini beranggotakan numeral sebagai konstituen pusat. Frasa numeral yang koordinatif tampak seperti dalam ucapan aba-aba, misalnya satu, dua, tiga, dst. Dalam frasa numeral yang atributif, konstituen atributifnya berupa kata bantu bilangan, misalnya dua biji, tiga utas, sepuluh lembar (Konisi, 2010 : 21).

2.4.5 Struktur Frasa Preposisi
Struktur frasa preposisional lazim dicirikan sebagai kategori yang hanya diikuti oleh nomina atau frasa nominal, seperti kepada ibu, ke sekolah, ke pasar, dari kampus, dsb (Konisi, 2010 : 21).

2.4.6 Struktur Frasa Konjungsi
Struktur frasa konjungsional biasanya diisi oleh konjungsi dan kategori/kelas kata lain yang mendampinginya. Kategori/kelas kata yang mendampinginya dapat berupa:
1) Nomina, misalnya dengan cangkul, untuk ibu,
2) Adjektiva, misalnya dengan ramah, dengan cepat,
3) Numeralia, misalnya sampai seratus, mulai seribu (Konisi, 2010 : 22



BAB III
METODE DAN TEKNIK PENELITIAN

3.1 Metode dan Jenis Penelitian
3.1.1 Metode Penelitian
      Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Maksud dari metode ini bahwa penelitian ini dilakukan seobjektif mungkin dan didasarkan semata-mata kepada fakta sesuai dengan kenyataan di lapangan.

3.1.2 Jenis Penelitian
    Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan, yaitu peneliti langsung ke lapangan untuk memperoleh data sesuai dengan masalah penelitian.

3.2 Data dan Sumber Data
3.2.1 Data
        Data dalam penelitian ini adalah bahasa lisan. Data ini berupa tuturan (frasa, klausa, dan kalimat) yang dituturkan oleh penutur asli bahasa Muna di Desa Wambona Kecamatan Wakorumba Selatan Kabupaten Muna yang diperoleh dari informan di lapangan.
3.2.2 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data lisan yang berasal dari informan yang menuturkan bahasa Muna yang telah memenuhi syarat atau kriteria. Syarat kriteria yang dimaksudkan meliputi:
1.) Penutur asli yang berdomisili di lokasi penelitian.
2.) Jarang meninggalkan daerah atau lokasi penelitian dalam waktu yang terlalu lama
3.) Saling memahami antara peneliti dan informan.
4.) Sabar dan memiliki waktu yang cukup untuk menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya.

3.3 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
3.3.1 Metode Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dari penelitian ini, digunakan metode simak dan metode cakap. Metode simak yaitu metode yang digunakan untuk memperoleh data dengan cara menyimak setiap pembicaraan informan. Metode cakap yaitu metode yang digunakan untuk memperoleh data lisan dengan cara mengadakan kontak langsung dengan informan. Kontak langsung yang dimaksudkan adalah kontak langsung secara verbal.


3.3.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik rekam dan teknik catat. Teknik rekam digunakan dengan pertimbanmgan bahwa data yang diteliti berupa data lisan. Teknik ini menggunakan alat bantu tape recorder. Selain teknik rekam, digunakan pula teknik catat yang digunakan sebagai koreksi terhadap hasil rekaman yang kurang jelas.

3.4 Metode dan Teknik Analisis Data
3.4.1 Metode Analisis Data
Dalam menganalisis data, penelitian ini menggunakan pendekatan struktural yakni peneliti berupaya memberikan gambaran secara objektif tentang frasa eksosentris bahasa Muna yang dikaji dengan melihat struktur frasa tersebut yang meliputi kategori/kelas kata yang mengisi frasa eksosentris bahasa Muna.

4.4.2  Teknik Analisis Data
Berdasarkan metode analisis data di atas, maka teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis Pilah Unsur Langsung (PUL). Teknik pilah unsur langsung yaitu memilah data berdasarkan satuan lingual menjadi beberapa bagian atau unsur. Teknik ini dianalisis dengan menggunakan teknik kajian menurun (top down).


DAFTAR PUSTAKA


Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa. Surabaya : Airlangga University Press.
Chaer, A. 1994. Linguistik Umum. Jakarta : Rineka Cipta.
Chaer, A. 1998. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Hasan, Fuad. 1992. Renungan Budaya. Jakarta : Gramedia.
Konisi, La Yani. 2010. Sintaksis Bahasa Indonesia. Kendari : JPBS FKIP Unhalu.
Parera, J. D. 2009. Dasar-Dasar Analisis Sintaksis. Jakarta : Erlangga.
Tarigan, H.G. 1986. Pengajara Sintaksis. Bandung : Angkas.
Usup, HT dkk. 1981. Morfologi dan sintaksis Bahasa Boolang Mongogondrow. Jakarta : DEPDIKBUD.
Verhar, J.M.W. 2006. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta : Gadja Mada University    Press.
Widawati. C.W. 2010. Farasa. Klausa, Kalimat, Struktur dan Analisisnya. Http://Colinawati.blog.uns.ac.id/2010/05/10/13. 24 Juni 2012.
Widjojosoedarmo, Soekono. 1987. Tata Bahasa Bahasa Indonesia. Surabaya : Sinar Wijaya.
























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar